Nov 13 2005
Topi Anti Jaim
Kutipan: Karya hidup yang indah tercipta dari tangan seseorang yang sedang gembira dan berbahagia <Albert Einstein>
Topi Anti Jaim. Topi yang menyerupai Mr. Krab di filem kartun
Spongebob. Topi berbentuk kepiting, berwarna merah menyala dengan mata belok (bahasa Jawa: besar, Red), enam kaki plus dua capit gedenya. Milik siapa? Yup, siapa lagi kalo bukan milik sepupu gelo, dia pake tu topi waktu dateng dari Bandung di malem pertama lebaran. Wong gendheng.
Tapi begitu mulei terbiasa, gw, adek gw ma sepupu-sepupu gw malah asyik
berpose menggunakan topi tersebut. Dari yang senyum manis sampe pose
yang amit-amit untuk dilihat. Semakin nista semakin terbahak-bahak lah kami
melihatnya.
Ternyata hal itu memunculkan ide bagi kami di hari kedua lebaran.
Memang kami baru bisa kumpul-kumpul lengkapnya pada hari kedua lebaran. Kita
coba tantang sepupu cewe lainnya. Wow! Ternyata sepupu cewe lainnya
menyanggupi tantangan tsb tanpa malu-malu dan jaim sedikit pun. Memang pada
dasarnya cewe-cewe Soekardanoe’s clan tu banci foto semua.
Huakakak! Makanya ditantang berpose gila-gilaan ibarat membalikkan telapak
tangan (eh, bener gak si perumpamaannya?)
Pada akhirnya kami coba tantangan yang lebih berat, yaitu mencoba
memakaikannya kepada kaum pria yang dituakan. Hihihi. Kejailan semakin
merasuk sukma (halah!)
…Inilah korban-korbannya, hihihi…
Korban pertama: Yangkung a.k.a Eyang kakung.
Namun
tak dinyana, ternyata beliau begitu luwes di depan kamera. Tanpa malu
sedikit pun (mungkin dalam hati eyang berkata: yah, udah kepalang
basah, sekalian aja menjeburkan diri, huekekeke!) Malahan yangkung
tanpa segan melewe-kan lidahnya. Wee. Yeah! KuWL!! Eyang paling KEREN
sejagad raya.
Maafin cucumu ini ya, Yang.
Hihihi. Dan saat itu, gw sekaligus menyadari bahwa ternyata jiwa jail
dan iseng kami turunan dari eyang. Itu sudah ada dalam darah kami.
Hihihi.
Korban kedua: Pakde dari Surabaya.
(+) Salah apa diri iniii?
(-) Tenang, Pakde.. Pakde gak salah apa-apa kok..
(+) Dosa apa yang kuperbuaaatt?
(-) Sabar, Pakde.. Tarik nafas dalam-dalaaam.. Buaaangg..
(+) Mengapa diri ini mempunyai keponakan-keponakan yang gak tau diriii?
(-)
Emang, Pakde.. Kami-kami ini memang keponakan-keponakan yang gak tau diri.
Hihihi. Maafin kami ya, Pakde.. Damei ya, Pakde.. Pisss..
Korban ketiga: Pakde dari Pamulang.
Lha? Ini mah gak pas dijuluki korban.
Secara (kebetulan) terlihat sekali beliau sangat menikmati saat-saat berposenya.
Justru agak-agak curiga nih, jangan-jangan beliau punya topi-topi yang lebih gak jaim untuk latihan berposenya.
Pakde, kalo beneran punya topi-topi anti jaim lainnya. Pinjem doooonnkkk. Hihihi.
Korban keempat: Oom dari Bandung.
Ini sama aja sama yang di atas. Gak pantes dibilang korban. Liat aja beliau asik bergaya gitu.
Oom gw yang pernah gw ceritain di postingan ini. Oom yang tak lain dan tak bukan adalah bokap dari sepupu gelo.
Oom, sedang liat apa, Oom?
Korban terakhir: Bokap gw sendiri!
Tantangan terakhir yang begitu mendebarkan.
Namun berakhir tanpa ada pertumpahan darah (halah!)
Liat deh, foto diambil beserta pelaku di samping sang korban.
Pap, maafin akuw ya, Pap. Janji deh gak diulangin lagi. Eh, tapi.. Gak usah janji aja deh, Pap. Hihihi.
Pesan Moral: Ternyata berpose dengan topi anti jaim bukanlah akhir dari segalanya.
Pertanyaan: Nama yang paling pas untuk topi anti jaim ini apa yah?