Jul 16 2006
Bubur Ayam Spesial
Kutipan: Walaupun agama dan ilmu wilayahnya terpisah satu sama lain, namun antara keduanya terdapat pertalian dan hubungan timbal balik yang kuat. <Albert Einstein>
Alkisah pada suatu pagi yang cerah, tiga orang anak manusia -yang sesudah kelelahan berlari pagi dan merasa perlu menambah tenaga- berupaya keras mencari bubur ayam langganannya. Hal itu dikarenakan tempat mangkal si abang bubur ayamnya sedang digunakan sebagai tempat acara sebuah handphone -yang dikenal dengan sebutan henfon sejuta umat-. Terpaksalah tiga anak manusia ini berusaha mencari bubur ayam yang lain dan mengharap akan menemukan seonggok gerobak yang bertuliskan bubur ayam.
Di suatu tempat, terlihat dari kejauhan ada banyak sekali penjual kaki lima yang sedang berdagang. Ketiga anak manusia tertarik untuk mendekatinya.
Si anak manusia yang paling tertua berseru, "Eh, itu kayaknya bubur ayam langganan kita deh!"
Si anak manusia yang lain yang memang menggunakan kacamata, "Hah? Mana? Mana? Moso’ sih?"
Si anak manusia lain yang kebetulan berstatus istri dari anak manusia tertua menyahut, "Iih! Iya! Iyaaa! Itu abang bubur yang biasa kita beli!"
Dan si anak manusia berkacamata lagi-lagi hanya dapat bertanya, "Mana siii? Kok aku gak ngeliat?"
Begitu mendekat, akhirnya si anak manusia berkacamata melihat juga si abang bubur ayam, "O iya! Asiiik! Akhirnya ketemu juga ama si abang bubur ayam! Cihuiii!"
Dengan semangat 45, ketiga anak manusia mendekati si abang bubur. Tinggal sepuluh langkah menuju si abang, tiba-tiba si abang pergi berlalu sekaligus dengan motor-motornya yang mengangkut dagangannya itu. Ketiga anak manusia panik mengejar si abang sembari teriak, "Abang! Abaaang! Tungguuu! Kita mau beli bubur ayaaaaam!"
"Dagangannya tumpah semua, mas-mbak.. Tu bekasnya, gak bersisa.. Tumpah semua.. Padahal baru jualan 10 mangkok..", si penjual minuman menerangkan. "Haaah? Masa si? Aduuuhh, kesian amattt…" Segala perasaan berkecamuk di hati ketiga anak manusia, dari perasaan kecewa karena abang buryam pergi sesaat ketika mereka sampai dan ingin memesan, sampai perasaan kasihan karena dagangan si abang tumpah gak bersisa. Akhirnya dengan langkah gontai dan perut yang keroncongan ketiga anak manusia pergi mencari bubur ayam yang lain.
Untungnya, cerita ini berakhir bahagia. Mereka menemukan pedagang bubur ayam yang lain. Sama-sama enak namun beda. Mulai dari kekentalan buburnya, potongan ayamnya, kerupuknya, sampe abangnya juga beda (kalo sama, horor juga kali ya?)
Tapi dari pengalaman itu, membuat si anak manusia berkacamata penasaran pengen nyoba bikin bubur ayam sendiri. Jadilah sisa hari itu, dia mencari resep-resep bubur ayam yang sekiranya mudah dibuat dan bahan-bahannya tersedia di dapurnya. Dan pada malam harinya, dia mencari sisa bahan yang belum tersedia di dapurnya.
Pada keesokan harinya, dia niat-bulat-tekad-kuat membuat bubur ayam. Ini dia resepnya :))
(Sumber: Situs dapurbunda, dimodifikasi: Anak manusia berkacamata)
untuk 6 porsi
Bahan:
2 sdm minyak goreng
1 sdm minyak wijen (sesame oil)
5 siung bawang putih, cincang
100 gr bawang bombay, cincang
300 gr daging ayam, potong-potong kecil
2 sdm saus tiram (oyster sauce)
1 sdt garam
1/2 sdt merica bubuk
1 sdm seasoning/chicken powder
150 gr jagung manis pipilan
Bubur:
150 gr beras
800-1000 ml air
3 cm jahe, memarkan
2 batang serai, memarkan
Taburan:
Kulit pangsit, iris dan goreng
Daun ketumbar
Cara membuat:
1. Bubur: Masak beras bersama air (800 ml), jahe dan serai hingga menjadi bubur setengah matang, angkat.
2. Panaskan minyak goreng dan minyak wijen, tumis bawang putih dan bawang bombay hingga harum. Masukkan ayam, saus tiram, garam, merica, masak hingga ayam berubah warna. Tambahkan seasoning/chicken powder dan jagung, masak hingga ayam lunak, angkat. Masukkan ke dalam bubur, aduk rata.
3. Masak kembali bubur bersama ayam hingga bumbu merata dan ayam lunak, (dapat ditambah air 200 ml, jika merasa terlalu kental), angkat.
4. Sajikan hangat, taburi pangsit goreng dan daun ketumbar. Mmm, enyaaaakkk! Perpaduan lembutnya bubur, empuknya daging ayam dan renyahnya jagung manis, membuat mulut tidak dapat berhenti mengunyah, mengunyah dan mengunyaaah :9
Pesan Moral: Di setiap kejadian, selalu ada maksud di balik kejadian itu sendiri.
Pertanyaan: Apa ‘kecelakaan’ itu terjadi supaya si anak manusia berkacamata terdorong untuk membuat bubur ayam sendiri?
